Hutan Penelitian Banamlaat

Sejarah Pengelolaan

Didirikan pada tahun 1987, terletak di Kelurahan Sasi Kecamatan Kota Kefamenanu  Kabupaten Timor Tengah Utara. Jarak dari kantor balai ± 200 km atau ± 12 km dari arah kota Kefamenanu. Luas wilayah unit satuan pengelolaan ini 67,69 ha, menempati kawasan hutan produksi. Kegiatan utama di stasiun penelitian ini adalah penelitian rehabilitasi dan konservasi tanah dan air serta penelitian  silvikultur tanaman.

 

Kondisi Fisik Wilayah

Stasiun Penelitian Banamlaat terletak pada wilayah administrasi pemerintahan Kelurahan Sasi Kecamatan Kota Kefamenanu Kabupaten Timor Tengah Utara. Terletak pada garis lintang 124°31’27,034” - 124°32’03,312” LS dan garis bujur 9°30’22,043” - 9°30’38,822” BT. Lokasi hutan penelitian berada di daerah pengembangan kawasan perkotaan yang pada masa mendatang diperkirakan akan banyak terjadi tumpang tindih kepentingan bagi pembangunan daerah.

Kondisi fisik tanah didominasi oleh tanah mediteran dan litosol, dengan rata-rata tingkat kelerengan yang datar  antara 0-20% dan  didominasi oleh padang savana. Lokasi kawasan juga didominasi oleh formasi tanah konglomerat dan kerakal pada jaman kwarter dengan batuan kerikil di atasnya, dan formasi liat bobonaro bercampur batu gamping di bagian bawahnya. Tekstur tanah liat, pH tanah rata-rata 7,4 dengan tipe iklim D.  Curah hujan rata-rata 710-1.300 mm/tahun dengan hari hujan rata-rata 44-90 hari per tahun. Suhu rata-rata 29° C dengan ketinggian tempat antara 300-400 m di atas permukaan laut.

Stasiun Penelitian Banamlaat terletak pada Kelompok Hutan Produksi Laob Tunbesi (RTK 186). Vegetasi penutup yang dominan di lokasi stasiun adalah Kabesak (Acacia leucophloea), Hue (Eucalyptus alba), Acacia saponaria, serta vegetasi hasil penelitian seperti Jati (T. grandis), Cendana (Santalum album), Cemara (C. junghuhniana), Kayu Putih (M. cajuputi). Vegetasi tingkat bawah yang mendominasi adalah Cynodon doctylon dan Alang-alang (Imperata cilindrica).

 

Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

Stasiun Penelitian Banamlaat berbatasan langsung dengan kelompok kawasan hutan produksi dan bersentuhan secara tidak langsung dengan masyarakat di perbatasan luar perkembangan Kota Kefamenanu. Masyarakat di wilayah ini sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Secara sosial budaya, keterkaitan dan ketergantungan masyarakat sekitar kawasan dengan hutan sudah cukup baik ditunjukkan oleh pengelolaan lahan-lahan kawasan hutan oleh  masyarakat sekitar untuk kegiatan pertanian lahan kering. Persoalan yang sering muncul adalah adanya beberapa pemanfaatan kawasan yang kadang berlebihan baik dalam masalah teknis pengelolaan seperti pembakaran lahan maupun persoalan sosial lainnya yakni penyerobotan kawasan hutan terutama dilakukan oleh masyarakat eks pengungsi Timor Timur.

Interaksi sosial yang yang terjadi antara pengelola stasiun penelitian dengan masyarakat sudah cukup baik, dimana masyarakat dilibatkan dalam kegiatan pengelolaan, misalnya dalam kegiatan pembuatan persemaian, pemeliharaan demplot penelitian dan pemeliharaan kawasan. Hal lain yang cukup membantu adalah masyarakat cukup mendukung adanya peran dan eksistensi stasiun penelitian di wilayah tersebut, dimana masyarakat menganggap kegiatan tersebut membantu masyarakat dalam kegiatan pengelolaan kawasan untuk menghasilkan manfaat pelestarian dan manfaat lainnya.