KHDTK Hambala

Sejarah Pengelolaan

Pada mulanya, areal hutan ini ditunjuk menjadi Hutan Penelitian Savana Kering berdasarkan Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 417/Kpts-II/1993 tanggal 11 Agustus 1993 tentang Penunjukan Sebagian Kawasan Hutan Produksi Konversi Kawasan Hutan Praipahamandas (RTK 46) yang Terletak di Kabupaten Sumba Timur Propinsi NTT seluas 509,42 ha sebagai Hutan Penelitian (Wanariset) Savana Kering yang dipertegas kembali dengan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 423/KPTS-II/1999 tanggal 15 Juni 1999.

Tahun 2004 melalui SK Menteri Kehutanan Nomor : 136/Menhut-II/2004 tanggal 4 Mei 2004 tentang Perubahan Keputusan Menhut No. 417/Kpts-II/1993 tanggal 11 Agustus 1993, kawasan ini ditunjuk menjadi Kawasan Hutan Dengan Tujuan Khusus (KHDTK) untuk Hutan Penelitian Waingapu (Hambala).

Kondisi Fisik

KHDTK Hutan Penelitian Waingapu (Hambala) berada pada ketinggian 150 meter dari permukaan laut, dengan keadaan fisik lapangan bergelombang atau degan kemiringan antara 15-20 persen. Tanah di daerah ini menurut peta tanah (PPTA, 1993) termasuk jenis mediteran haplik atau haflustalf (USDA, 1992 dalam PPTA, 1993) dengan bahan induk batu gamping, napal dan batu liat, yang berasal dari fisiografi pegunungan lipatan dengan ketebalan solum kurang dari 20 cm. Berdasarkan data iklim dari tahun 1994-2004 dari Stasiun Meteorologi Sumba Timur (kurang lebih 10 km dari lokasi) terlihat bahwa curah hujan/tahun 868,26 mm; jumlah hari hujan/tahun 90 hari; temperatur maksimum 28,44 derajat C; temperatur minimum 22,73 derajat C; temperatur rata-rata 28,44 derajatvC; dengan kelembaban nisbi rata-rata 77,17%. Adapun jumlah bulan kering rata-rata/tahun adalah 7 sedangkan jumlah bulan basah 4, termasuk tipe F = kering (Schmidt dan Ferguson).

Kondisi Biologi

Sebagian besar areal KHDTK Hutan Penelitian Waingapu (Hambala) merupakan areal padang savana dengan dominasi tegakan di bagian cekungan atau lembah sungai. Vegetasi dominan di hutan penelitian Hambala untuk formasi alamiah adalah kesambi (Scleicera oleosa), bidara (Zyzypus spp), kedondong hutan (Spondias pinata), kalihi (Ficus pilosa), injuwatu (Pleiogynium timorense), kayu merah (Pterocarpus indicus) serta halay (Alstonia spectabilis). Sedangkan vegetasi hasil penanaman dan demplot penelitian antara lain cemara (Casuarina junghuhniana), kayu putih (Eucalyptus camadulensis), jati (Tectona grandis), Gmelina arborea, Acacia mangium, A. holorsericea, A. auriculiformis, E. urophylla, S. oleosa, jarak pagar (Jatropha curcas), Melaleuca cajuputi.

Kondisi Sosial Ekonomi Masyarakat

Masyarakat sekitar KHDTK Hutan Penelitian Waingapu (Hambala) sebagian besar merupakan peternak dan petani. Selain itu terdapat beberapa kelompok pengerajin pandai besi. Kemiskinan, rendahnya tingkat pendidikan dan kesehatan merupakan permasalahan pokok yang melingkupi penduduk sekitar kawasan.